Sabtu, 22 Juni 2013

Membuka Mata Hati

0 comments
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an;

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(QS Al-‘Araf 179)

Allah SWT memberikan peringatan kepada mereka dari golongan jin dan manusia yang tidak mengenal kekuasaan Allah yakni neraka Jahanam. Mufasir memberikan keterangan pada ayat di atas tentang penggunaan kalimat dzara’na (Kami jadikan / kami pendamkan) dalam Al-Qur’an hanya sekali kalimat tersebut tertera.

Mengapa Allah menjadikan golongan jin dan manusia dipendam dalam neraka jahanam? Sesungguhnya Allah telah memberikan sesuatu kepada jin dan manusia dan tidak ada pada makhluk lain dan sesuatu itu adalah Qolbun (Hati).

Dalam Al-Qur’an terdapat 130 ayat yang berkaitan dengan masalah hati. Sesungguhnya hati merupakan sentral dalam mengarungi kehidupan. Karena hati ini adalah sentral kehidupan cermin dalam kebijakannya, di perlihatkan apabila baik hatinya maka seluruh amalnyapun baik, dan sebaliknya apabila hatinya buruk maka semua amalnya juga buruk. Allah SWT menyatakan dalam Al-Qur’an;

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.
Kecuali orang orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Dan (dihari itu) didekatkanlah Syurga kepada orang-orang yang bertaqwa.
(QS. Asy-Syu’araa 88 – 90)

Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dibanggakan didunia ini seperti, harta, kedudukan, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya terkecuali yang datang kepada Allah hanyalah kebeningan hati yang suci. Penjelasan ayat selanjutnya memberikan perbandingan bagi jin dan manusia yang tidak memberikan perhatian terhadap hatinya yaitu dengan “hewan ternak” bahkan lebih sesat dari pada hewan ternak.

Mendengar ayat ini sebahagian para sahabat menangis dan kemudian menanyakan kepada Rasulullah SAW, “ya Rasul mengapa Allah SWT menyatakan untuk memuliakan anak Adam dan kenapa di satu sisi Allah mengatakan mereka bagaikan hewan ternak bahkan lebih rendah dari pada hewan ternak? Rasulullah berkata “ sesungguhnya hatinya tidak ada perhatian ,dan tidak mau mengetahui kepentingan kaum muslimin”.

Mereka yang hatinya yang tertutup dalam pengertian tidak mengenal Allah cirinya adalah tidak terlepas dari keburukan dan penderitaan, sehingga mereka menjadikan umat Islam menjadi terpecah belah. Kenapa hati tidak di berikan perhatian yang besar? Jawabannya adalah karena hati tersebut tidak ada nur (cahaya) artinya hati yang hanya berurusan dengan materi duniawi. Sehingga Rasulullah SAW timbul kekhawatiran;

“Yang paling aku takuti nanti pada umatku, sahabat bertanya, apa ya Rasulullah? Yaitu cinta dunia dan takut mati”

Imam khusen mengatakan, disaat kalian diperintahkan untuk Shalat satu hari satu malam mungkin kalian mengerjakannya, disaat kalian diperintahkan untuk bertasbih mungkin kalian menangis, tetapi disaat dunia kalian terhalangi oleh agamamu sungguh kalian akan mencampakkan agama daripada dunia. Oleh karena itu kita mencoba merenung kembali dalam kehidupan ini, jangan sampai AlQur’an mengkatagorikan kita sebagai orang yang mempunyai hati tapi tidak mengenal kekuasaan Allah.

Imam Ja’far Shodiq memberikan gambaran bahwasannya setiap manusia yang terlalu cinta terhadap dunia, hidupnya tidak mengenal Allah. Tetapi dikala manusia itu menemukan kesulitan dalam hidupnya baru membutuhkan pertolongan Allah. Apa jadinya jika manusia yang mempunyai sifat seperti ini kemudian memimpin umah, memegang jabatan, berterimakasih kepada Allah saja sudah di jadikannya beban. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an;

“Diantara manusia ada yang mengatakan : kami beriman kepada Allah dan hari kemudian. Padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqoroh 8 - 9)

Munafik lebih besar bahayanya dari pada kafir, karena orang kafir dapat diketahui kekafirannya. Sedangkan munafik bermuka dua, berjuang untuk umat tetapi bukan untuk Allah melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka berusaha untuk menipu Allah dan orang-orang mu’min, padahal tidak akan mungkin Allah tertipu. Tanpa disadari padahal dia tertipu oleh dirinya sendiri. Kepribadian yang ada pada orang-orang munafik cirinya adalah ‘pembohong”.

Ciri lainnya mereka mempunyai mata, tapi mata mereka tertutup terlihat dari cara pandang mereka terhadap kekuasaan Allah. Allah memberikan ancaman bagi manusia yang lupa pada kekuasaan-Nya maka Allah pun akan melupakannya.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya memberikan ciri yang menyebabkan mata hati kita tertutup antara lain disebabkan oleh harta, jabatan, ilmu, kepopuleran, keturunan dan lain sebagainya. Tetapi yang berbahaya adalah dikala ma’siat menjadi bagian dari dirinya, dan dengan kemaksiatannya itu dia tidak merasakan apapun, padahal adzab Allah sudah menanti. Berbeda dengan orang mu’min dikala sedikit melakukan kesalahan, hatinya ketakutan dan gelisah, karena dirinya takut terhiasi oleh perbuatan syaitan. Memang sulit membuka mata hati, karena kita adalah manusia yang lemah hanya Allah SWT yang dapat membuka mata hati kita. Hati yang terbuka menjadikan kita mengenal Allah dan menyadari bahwa suatu hari nanti kita akan menanti panggilannya, tidak ada makhluk satu pun yang tidak luput dari kematian.

Dunia yang kita pijak ini adalah sarana untuk kita dan untuk mengenal Allah. Dalam bentuk apa saja perjuangan kita didunia mempunyai dua pilihan, ibadah kepada Allah atau kepada Syaiton, berbuat ma’siat atau ta’at kepada Allah. Rasulullah bersabda;

“Apabila ada taman syurga di muka bumi mampirlah engkau, dimana taman syurganya Allah? Ditempat orang yang diingati tentang siapa dirinya kepada Allah, disadarkan dirinya dibuka mata hatinya untuk sujud kepada Allah.”

Ayat di atas memberikan gambaran, bagaimana jadinya ketika telinga-telinga mereka tidak lagi mengenal ayat-ayat Allah, sehingga mereka hidupnya bagaikan ternak. Apa hidup ternak? Hidup ternak tidak akan jauh dari makan, minum, tidur, syahwat. Tetapi semua yang dilakukan ternak terbatas, tentunya berbeda dengan manusia yang selalu berkeinginan untuk melebihi batasnya, contoh; sudah tersedia makan dan minuman yang halal, tetapi yang harampun dimakan dan diminumnya, syahwat manusia yang telah diatur dalam Al-Qur’an, tetapi tidak mampu mengendalikannya. Islam memberikan tujuan bagi umat muslim untuk mencari ketenangan dalam hidupnya. Jalan menuju ketenangan hanyalah dengan berdzikir kepada Allah, dan memohon petunjuk dari Allah SWT.

Oleh karena itu sadarilah bahwa kita adalah hamba Allah. Setiap apa yang kita lakukan akan dibalas oleh Allah didunia dan akherat.

Sumber: http://membukamatahati.blogspot.com
Read full post »

Senin, 03 Juni 2013

Ujian dan Cobaan

0 comments

  1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya ALLAH 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum ALLAH menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka ALLAH. (HR. Tirmidzi)
  2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali ALLAH mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)
  3. Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rosululloh SAW, "Ya Rosululloh, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi SAW menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)
  4. Barangsiapa dikehendaki ALLAH kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)
  5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka ALLAH menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. ath-Thabrani)
  6. Apabila ALLAH menyenangi hamba maka dia diuji agar ALLAH mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. al-Baihaqi)
  7. Apabila Aku menguji hamba-KU dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka AKU ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
  8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu ALLAH menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)
  9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, ALLAH akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. al-Bazzaar)
  10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rosululloh?" Nabi SAW menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)
    Penjelasan: Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah
  12. ALLAH menguji hamba-NYA dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi ALLAH dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. ath-Thabrani)
  13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya'la)
  14. Sesungguhnya ALLAH Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan ALLAH kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka ALLAH akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka ALLAH tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)
  15. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas ALLAH untuk mengampuninya. (HR. ath-Thabrani)
  16. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. ad-Dailami)
  17. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. al-Baihaqi)
Read full post »