Rabu, 31 Desember 2014

Di Dunia ini Tidak Ada yang Sempurna

0 comments
Berikut adalah tulisan dari Ustadz Burhan Sodiq yang cukup mencerahkan untuk kita dalam mengarungi kehidupan, inti dari tulisan beliau adalah bahwa kita di Dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kita harus bisa saling menerima dan mengisi kekurangan satu sama lain di antara kita agar kita bisa hidup rukun anatar satu dan yang lainnya.

Sesama Hewan Landak tidak mungkin saling merapat satu dengan lainnya. Duri duri tajam yg mengitari tubuhnya adalah penghalang utama mereka untuk melakukan hal di atas. Bahkan kepada anak kandungnya sendiri....

Ketika musim dingin tiba, membawa hembusan badai salju susul menyusul, serta cuaca dingin yg menggigit tulang, dalam kondisi kritis seperti ini, para landak itu terpaksa saling merapat satu dengan lainnya, demi menghangatkan tubuh2 nya meski mereka harus berjuang menahan perih dan sakitnya duri2 landak lain yg menusuk, melukai kulit2 mereka.

Jika sekawanan landak itu telah merasakan sedikit kehangatan, segera saja mereka saling menjauh, namun jika rasa dingin kembali merasuk ke dalam tubuh mereka, mereka akan segera merapat lagi... dan demikianlah seterusnya.

sepanjang malam, landak2 itu disibukan oleh kegiatan saling menjauh dan saling mendekat.

Merapat terlalu lama akan menimpakan atas mereka benyak luka. Sementara jika mereka saling menjauh dalam waktu yg lama justru bisa saja rasa dingin menewaskan mereka.
Demikianlah keadaan kita manusia dalam hubungan interaksi sosial antara sesama kita dalam hidup ini, tentu tak seorang manusiapun terbebas dari duri2 (kesalahan2) yg mengitari dirinya, demikian halnya org lain...

Tentu mereka sama sekali tidak akan dapat merasakan kehangatan jika mereka tidak rela bersabar menanggung perihnya duri2 (kesalahan) org lain pada saat saling merapat.

Oleh karena itulah:
Siapa saja yg hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara.

Dan barang siapa yg ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang.

Dan barang siapa yg berusaha mencari saudara tanpa problema, niscaya ia akan hidup dalam pencarian yg tiada akhirnya.

Barang siapa yg hendak mencari kerabat yg ideal dan sempurna, niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan.

Maka, bersabarlah menanggung perihnya kesalahan orang lain, agar kita dapat mengembalikan keseimbangan dalam. hidup ini.

Camkanlah ....jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu.
Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapti ternyata berlian itu bermula dari bongkahan batu hitam.
Read full post »

Sabtu, 06 Desember 2014

Jangan Khawatir Mengenai Rezeki Kita di Dunia, tapi Khawatirlah Bekal Apa yang Akan Kita Bawa ke Akhirat

0 comments
Jangan Khawatir Mengenai Rezeki Kita di Dunia, tapi Khawatirlah Kehidupan Kita Nanti di Akhirat

      Rezeki itu sudah Allah atur untuk kita mulai dari kita lahir sampai kita meninggal. Kita tidak usah mengkhawatirkan mengenai rezeki kita di masa yang akan datang, karena rezeki kita itu sudah pasti akan kita dapatkan, hanya saja kita perlu menjemputnya dengan ikhtiar. Bahkan sering kali kita mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka datangnya. Seseorang tidak akan mati sampai seluruh rezekinya diterima. 
Sebagai mana dalam hadits:
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214).

     Jadi kita tidak usah ragu lagi mengenai rezeki kita di dunia, karena rezeki yang akan kita dapatkan sudah pasti berapa-berapa sampai kita meninggal dunia. Yang belum pasti itu adalah bagaimana kehidupan kita di akhirat, apakah akan masuk surga dan mendapatkan berbagai macam kenikmatan atau akan masuk neraka dan mendapatkan berbagai macam siksaan. Itu semua tergantung amalan kita selama kita di dunia, jadi yang saat ini perlu kita khawatirkan adalah bagaimana kehidupan kita nanti di akhirat.

     Ada nasihat yang bagus mengenai rezeki dari teman di facebook saya, yang kutipannya itu kurang lebih seperti ini:
     Orang bijak mengajarkan, “Di saat kau bertanya-tanya dalam ketaktahuan akan di mana keberadaan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu tahu pasti di mana kau berada. Dari langit, laut, gunung ataupun lembah, Rabb memerintahkannya menujumu. Allah telah berjanji menjamin rezekimu. Maka, melalaikan ketaatan pada-Nya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Tugas kita bukan mengkhawatirkan rezeki, atau bermuluk cita memilikinya. Tugas kita adalah menyiapkan jawaban ‘dari mana’ dan ‘untuk apa’ bagi setiap karunia.”

“Betapa banyak orang bercita-cita menggenggam dunia hingga ia alpa bahwa hakikat rezeki bukanlah yang tertulis dalam angka, melainkan apa yang ia nikmati. Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya, demi angka simpanan gaji yang sangat mungkin esok pagi ditinggalkannya mati. Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rezeki pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rezeki itu urusan-Nya.”


Gontor, 6-12-2014

Read full post »