Sebelum
masuk ke cerita saya mau memperkenalkan diri dulu. Nama saya Muhammad Nugraha,
di Indonesia bisaanya di panggil nugraha tapi klo sama temen2 dan profesor2 di
korea saya suka di panggil Muhammad. Kenapa demikian, karena saya kasian sama
mereka klo manggil nugraha, meraka akan kesulitan ketika memanggil saya dengan
sebutan nugraha, karena mereka susah bilang huruf “R”. Maka dari itu biar
mereka gak susah n bingung manggil saya, saya saranin untuk panggil saya dengan
sebutan Muhammad aja.
Dulu
ketika kuliah S1 saya kuliah di jurusan teknik informatika di salah satu
univeritas swasta di Jogjakarta. Universitas ini tidak terkenal bahkan banyak
dari sebagian orang yg tidak tau dengan universitas yang satu ini. Sebenernya
saya bisa masuk ke universitas ini karena saya tidak lulus ketika test masuk ke
STAN kemudian saya juga gak lulus PMDK ke ilmu komputer IPB, terus saya juga
gak lulus SPMB ke ilmu komputer UGM. Oleh karena itu saya mau gak mau harus
masuk univeritas ini biar nggak nganggur atw harus nunggu lagi untuk test tahun
depan. Memang kualitas jurusan teknik informatika di universitas itu tidak
terlalu bagus, bahkan akreditasinya juga hanya mendapat akreditasi “C”, sumber
daya manusianya atau dosen nya juga kurang bahkan ada beberapa dosennya itu ada
yg hanya lulusan S1. Ketika masuk semester 2 saya sempat kepikiran ingin pindah
kuliah karena melihat perkuliahan yang kurang saya suka, tapi orang tua saya
menyarankan agar lanjut aja di universitas tersebut, ibu saya menasehati untuk terus
menlanjutkan kuliah disana, dan untuk masalah kualitas ibu saya menasehati saya
klo untuk kualitas seseorang itu tergantung kepada diri kita masing2 bukan dari
orang lain ataupun kampus, klo kita bagus maka insya Allah hasilnya juga akan
bagus. Mendengar nasehat dari orang tua saya itu saya pun menurutinya dan
melanjutkan kuliah disana sampe saya selesai. Selama masa kuliah saya tidak
begitu pintar dan tidak juga begitu bodoh, saya berada di tengah2 yaitu menjadi
orang yang bisaa2 aja dengan hasil yang bisaa2 aja. Bahkan hasil akhir atau IPK
pun saya tidak terlalu besar, saya hanya mendapatkan IPK yang pas pasan dan
jauh di banding teman2 saya yang IPKnya tinggi2. Meskipun begitu saya tetap optimis
klo dengan IPK saya yang kecil itu saya bisa dan akan menjadi orang yang besar
daripada teman2 saya yang IPKnya tinggi.
Setelah
wisuda dari dulu saya memang sudah ada cita2 ingin menlanjutkan kuliah S2, klo
tidak mampu ke luar negeri di dalam negeri juga tidak apa2, akan tetapi saya
sangat berharap bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri dan itu sudah cita2 saya
semenjak masih duduk di bangku SMA. Kemudian hari demi hari saya lalui dengan
mencari cari beasiswa ke luar negeri, akan tetapi tidak pernah membuahkan hasil
dan untuk antisipasinya sayapun mendaftar S2 di dalam negeri di salah satu
universitas negeri di jogja. Hal ini saya lakukan untuk mengantisipasi klo
sampai nanti pengumuman penerimaan S2 di jogja sudah di umumkan dan saya belum
mendapatkan beasiswa ke luar negeri juga maka saya akan putuskan untuk
melanjutkan kuliah S2 di jogja aja.
Suatu
saat saya chating dengan teman saya yang sedang study di korea tepatnya di
Chonnam National University(CNU), waktu itu saya ngobrol dan nanya2 tentang
beasiswa di korea. Dan pas lagi chating itu saya di tawarin temen saya untuk
mengajukan beasiswa ke CNU dan nanti teman saya akan bantu saya untuk
menguruskannya dan meminta rekomendasi dari profesornya di lab. Mendengar
informasi itu saya pun menyiapkan berkas2 yang di perlukan dan mengirimkannya
ke teman saya tadi agar nanti temen saya bisa menguruskannya ke kampus.
Sebenarnya di pikiran saya untuk melanjutkan kuliah ke CNU itu masih di liputi
perasaan ragu dan bimbang karena kemampuan akademik saya yang sangat kurang,
IPK saya yang kecil, kemampuan bahasa inggris saya yang masih ancur dan bahasa
korea pun saya tidak bisa sama sekali. Tapi karena tekat yang kuat dan cita2 yg
tinggi ingin melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri saya pun nekad untuk mencoba
kesana. Perlu di ketahui ketika nge apply beasiswa ke korea itu berkas2 yang
saya kirimkan sangat minim sekali, mulai dari nilai TOEFL saya yang rendah, IPK
saya juga rendah, dan profil saya pun bisaa2aja (tidak ada prestasi satupun).
Meskipun demikian saya tetap optimis dan selalu berdoa agar di berikan yang
terbaik. Di setiap doa yang saya panjatkan saya selalu minta keridhoan Allah
SWT untuk meridhoi saya agar bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Tibalah
saatnya pengumuman mahasiswa yang keterima untuk kuliah di CNU dan sayapun cepat
bergegas membuka web dimana pengumuman beasiswa itu di umumkan. Dan setelah
saya lihat Alhamdulillah ternyata saya diterima untuk kuliah S2 di CNU, tapi
kesenangan itu sirna ketika melihat keterangan ternyata saya tidak mendapatkan
beasiswa untuk kuliah disana melainkan harus biaya dari sendiri. Dari hasil pengumuman
tersebut saya pun berniat untuk tidak mengambil kuliah ke CNU karena saya tidak
mendapatkan beasiswa. saya berniat dan sudah bulat mau melanjutkan kuliah S2 di
Indonesia saja lebih tepatnya di Jogjakarta. Setelah beberapa hari saya
mengambil keputusan tersebut keajaibanpun datang, yaitu saya mendapatkan kabar
dari teman saya bahwa saya ternyata mendapatkan beasiswa. Mau tau kenapa saya
tiba2 mendapatkan beasiswa padahal tadinya saya tidak mendapatkannya? Ternyata
ketika teman saya mendapatkan info bahwa saya lulus masuk CNU dan tidak
mendapatkan beasiswa maka 2 orang teman saya yang di CNU menyarikan dan meloby
ke professor agar saya bisa mendapatkan beasiswa, dan akhirnya setelah beberapa proses saya pun mendapatkan
beasiswa. Selain berkat bantuan perjuangan dari teman saya tersebut ini juga
berkat do’a kedua orang tua saya dan keridhoan Allah SWT yang mengabulkan doa2
saya. Semenjak mendapatkan informasi tersebut saya pun segera mengurus
keberangkatan saya ke korea.
Hampir
semua teman2 saya tidak ada yang percaya klo saya mendapatkan beasiswa S2 ke
korea, karena mereka juga tau kepintaran dan kemampuan saya yang hanya bisaa2
saja. Jangankan teman2, orang tua pun tidak percaya klo saya mendapatkan
beasiswa ke korea, kedengarannya ini seperti becanda. Disinilah peranan Allah
SWT yang berbicara, segala sesuatu itu tidak ada yg tidak mungkin bagi Allah,
segala sesuatu itu akan mungkin klo Allah berkehendak. Maka dari itu jangan
bosan bosannya meminta dan mohon pertolongan sama Allah SWT dan tentunya di
barengi dengan usaha juga.
Main
point
Beberapa pelajaran yang
bisa di ambil dari beberapa pengalaman saya adalah:
- Positif thinking, yakin bakal kecapai apa yang kita tuju dan inginkan di barengi dengan doa terus menerus.
- Mintalah restu dan do’a orang tua untuk mencapai tujuanmu itu agar lebih di lancarkan.
- Untuk yang ngerasa dirinya bisaa2 aja seperti saya jangan minder, pasti ada jalan untuk menjadi orang besar, tetap berusaha dan terus berjuang semampunya. “orang pintar kalah dengan orang beruntung”
- Link atau relasi akan sangat membatu baik dalam mendapatkan beasiswa ataupun untuk mendapatkan pekerjaan. Berkat link teman yang saya punya di korea saya bisa mendapatkan beasiswa ke korea meskipun kemampuan saya bisaa2 aja.
Mudah2an cerita ini
bisa menjadi penyemangat dan motivasi untuk yang minder dengan keadaan yang bisaa2
aja. cerita ini real 100% saya alami tanpa ada rekayasa sedikitpun. “Orang
pintar kalah dengan orang beruntung”, mungkin buat orang yg ngerasa bisaa2 aja
itu kata2 bisa jadi penyemangat dan motivasi bahwa kamu yakin kamu itu adalah
orang2 yang beruntung yang bisa mengalahkan orang pintar. Orang pintar belum
tentu bisa beruntung. Dan untuk bisa jadi orang beruntung terus positif thinking, berusaha, dan do’a.
Gwangju,
September 29th 2012

assalamualaikum
BalasHapussalam kenal mas nugraha
terima kasih untuk tulisannya, sangat memotivasi.. jd inget lagi sm mimpi untuk ke negeri kincir angin :')
Wa'alaikumsalam...
BalasHapusSalam kenal juga, mudah2an mimpi untuk ke negeri kincir anginnya bisa terwujud.aamiin,,,
Assalamu'alaikum
BalasHapussalam kenal juga mas nugraha.
point-point tulisannya mengembalikan jati diri kembali pada ikhtiar dan doa.
terimakasih
Sangat memotifasi :)
BalasHapusjangan lupa kunjungi.... https://mynotes2you.blogspot.com